Murid Seorang Budak
Suatu ketika bencana kelaparan melanda Balkh. Akibat bencana itu, orang saling membunuh untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya. Di sebuah pasar, Syaqiq Al Bakhli melihat seorang budak muda sedang tertawa penuh kegembiraan.
“Apa yang membuatmu seperti itu, wahai budak? Apakah kamu tidak melihat penderitaan orang lain?”, bertanya Syaqiq Al Bakhli pada budak muda itu.
“Kenapa harus khawatir? Majikanku punya banyak ladang dan biji-bijian. Dia tidak akan pernah membiarkan aku kelaparan”, jawab budak itu.
Jawaban itu membuat Syaqiq Al Bakhli sadar, “Ya Allah, budak itu begitu bahagia karena majikannya memiliki setumpuk gandum. Padahal Engkau Maha Kaya dan telah berjanji akan memberikan makanan setiap hari kepada hamba-hamba-Mu dan semua makhluk-Mu. Tetapi mengapa aku merasa khawatir?”
Sejak itu Syaqiq Al Bakhli meninggalkan aktivitas dunia dan benar-benar bertaubat. Kemudian dia memusatkan semua kegiatannya hanya untuk Allah semata. Di sela-sela ibadahnya Syaqiq Al Bakhli sering berkata, “Aku murid seorang budak”.
(Dari buku Hikmah Dibalik Kisah karya Drs. Abd. Muthalib Ilyas)